RSS

About my Denzel


Siapa bilang biola itu adalah alat musik yang penuh dengan kelembutan?? (Gue rasa)Salah besar!
Selama ini jelas terlihat paradigma masyarakat tentang sebuah alat musik bernama biola. Selain merupakan alat musik yang diciptakan oleh seorang Italia bernama Antonio Stradivari, juga sebuah instrumen yang dapat membuat pemainnya terlihat manis dan lembut.  Hahah. Makanya, para gadis-gadis remaja notabene merasa excited dengan instrumen tersebut. Kayak temen gue yang kadang-kadang suka bergaya a la violinist walau dia sendiri belum penah megang biola sekalipun. Pas gue tanya, kenapa dia kok gitu, padahal gua tau dia ga begitu peduli ama musik, eh jawabannya :
“Karena cewek yang lagi main biola tu keliatannya manis banget”.
“…….”
Cloud : “Ck. Nonsense abis.”
Amno : “?!! Kapan lo dateng? Nyambung aje lo”
Cloud : “baru, lha, bukannya elo manggil gua tadi buat kitsching disini?”
Amno : “Kitsching…mang fanfic??”
Cloud : “Laiya, kitsching pan artinya ikut-ikut ngomen. Woy, udahan dulu bacotnya napa, reader maonya mbaca tulisan lu soal biola, bukan soal fanfic”
Amno : “Hieleeeh, you made me, bro….”
Dan juga, masih inget gak ama iklan ponds dulu yang afgan ngejar-ngejar cewek trus ketemu di tanpa sengaja  di jalanan? Nah, cewek itu dikarakterkan (halah) sebagai cewek penyuka bunga yang lembut. Plus seorang violinist.
Cloud : “Nahlo . Itu dia.”
Amno : “Trus, ada seorang temen gue yang kepingin beli cello. Tapi, niatnya itu sempat dipandang sebelah mata ama keluarganya dengan alasan gini ; Kenapa ga biola aja sih? Pemain biola tu keliatan sekseh loh. (baca:Kami-maunya-kamu-jadi-violinist). Padahal, emang orangnya sendiri gag suka biola karena..hmm…bising katanya. Temen-temen gue yang laen juga sama aja, kalo disuruh milih pake instrumen apa, pasti dah refer ke biola. Ga usah tanyain deh kenapa. Bisa ditanggung kalo alasan mereka sama ama pren gua yang paling atas.”
Cloud : *manggut-manggut*
Hoke, back to the main theme. Nah, gue bilang biola itu sama sekali nggak “penuh kelembutan”. Karena, untuk bisa jadi seorang violinist, kita harus tahan dalam menaklukkan biola itu sendiri. Dan itu sama sekali ga semudah tepuk tangan (*?* ya iyalah).  Kalo bicara soal kesabaran, nah itu baru betul. Mutlak betul. Menjadi violinist pro bukan hanya dari latihan dan latihan, tapi juga dari sikap dalam memperlakukan instrumen juga yang paling penting, rasa dan pengetahuan soal instrumen itu sendiri. Tau ga, pengetahuan apa yang paling penting dan lebih penting daripada nama pencipta biola pertama?
Cloud : “How to tunning your violin. Ya tho??”
Itu yang paling penting.
 Ya kan? Hal itu juga yang masih ngeganggu pikiran gue.
Kayak yang kita tau, stem-an biola tu dimulai dari senar keempat (senar paling tebel) itu sol, trus re, la, yang terakhir mi. Nah, mari kita nyetem! Haha…tunggu dulu…solrelami ya solrelami…tapi…distemnya sampai senarnya kencang atau bener-bener kencang?
Cloud : “Hyeee…. Mang ada yang kayak gitu?! Apa bedanya?”
 Amno : “Eh, ada lho bedanya. Coba aja pake biola langsung.”
 Masalahnya gini, dengan senar kencang, kita  bakalan ngerasain “kelembutan” biola, karena memang  jenis senarnya begitu. Tapi, nada yang dihasilkan berada pada ambitus (range jangkauan) alto, sama ama viola
Cloud : “Berdasarkan frekuensi, ada beberapa tingkatan, dimulai dari bass yang paling rendah, bariton yang ada pada cello, alto yang merupakan  suara wanita terendah, ada pada viola, disusul tenor, lalu yang paling tinggi yaitu sopran. (Biola ada pada sopran).”
 Amno : “Kalo gitu bukan biola dong namanya? Lagian, suaranya terdengar jauh lebih “ringan” daripada suara biola pada umumnya.”
Yang kedua, dengan senar benar-benar kencang. Mantep. Itu baru namanya suara biola. Tapi…selalu ada tapi.
…Senarnya keruaaassssh dan movement antar nada pun kerasa berat…
Hauuuuuuuuu
Kalo kita melemahkan tekanan jari ke senar, dikiiiit aja, sumbang jadinya. Itu baru buat mindahin satu nada. Belom mikirin bowing (menggesek) segala. Gimana kalo kita mau mainin lagu dengan tempo yang mukegila macam 24 Caprice-nya Oom Paganini ato Bach prelude-nya Mbah Bach-tiar?
Cloud : “Lha elo baru sebulan megang biola mikirnya `belajar-mainin-caprices-mainin-caprices-aja-dulu-sebelum-mainin-lagu-klasik-lain`. Ngimpi tingkat wahid looooe…. “
Amno : *cuweks*.
Gue sih nggak yakin alasannya adalah karena senar biola gue yang jelek. Senar temen gue yang jauh lebih bagus aja kayak gitu kok, tapi memang rada lentur dan enakan.
Yeah, itu dia yang sempat bikin gua frustasi. Karena apa, sejujurnya gue dapetin Denzel a.k.a violin gue tersayang juga ga gampang. Coz ortu yang ga begitu merestui gara-gara gue udah pernah beli gitar trus dianggurin ga jadi apa-apa karena merasa ga sreg. (Apa hubungannya antara senar dan cara ndapetin Denzel hayoo?)
Cloud : “Pantes aje, pemirsa, pantes. Salah dianya sendiri juga yang hangat-hangat tokai ayam.”
Amno : “Diem lu! Dasar manusia jengger ayam! *ngambil tai ayam di depan rumah trus dilemparin ke muka Cloud*”
Cloud : “Heiwww ga kenaaa!!!!” *joget-joget pak lurah menang pilkades* (Cloud : “P.S….eh cuy, gue ni cochobo, bukan ayam. Eh, lo pikir masih sodaraan yak?? Hmm…*buka-buka silsilah keluarga dengan alis ditekuk*”)
 Gue berusaha gimana caranya ngumpulin uang jajan sedikit demi sedikit dengan perjuangan yang ….eeerrggghh.
Cloud : “Yak, pemirsa, author kita yang mempunyai kamar menyerupai kamar Megumi Noda ini memang hanya diberi uang jajan goceng sehari…cek-cek-cek….”
 Lagi, kenapa gue bulet banget milih biola? Jawabannya adalah karena  biola-senarnya-lebih-soft-daripada-gitar-jadi-nekannya-lebih-gampang-gue-ga-peduli-ama-bowingnya *huuuuuuu, tapi gue emang suka biola kok terlepas dari alasan apapun. banget, suwer*. Tapiii setelah tau-tapi-ga-tau-tau-amat  nih bahwa senar biolapun ternyata sekeras senar gitar, …..dilemalah saya. Gue jadi stress sendiri, dan pikiran gue berkecamuk dengan kemungkinan terburuk bahwa: Sebenarnya gue ga cocok karena bisa-bisanya abut dengan alas an macam gitu  sedangkan sobat sayah, Roti (-nama disamarkan-) yang memang dari awal hobi menaikkan steman semaunya sampai senarnya sekeras sendok (ha?maksa) sama sekali ga ada masalah soal itu dan progressnya bagus banget . Malah kalo nyetem a la kencang dia jadi ga tahan pengen naikin ke satu oktaf lebih tinggi.
Cloud : “Oh yo. Ktanya yang kencang itu emang lebih nggigit dan gue rasa gregetnya biola emang ada pada frekuensi itu. Tapi jangan-jangan senar doski bagusan?”
Amno : “ya nggak no. Wong biola yang gue pake ya bekas `korban`nya dia dulu, alias bekas punya Roti yang kata gua sering distem ala bener-bener kencang diatas.”
Cloud : “Hoooo…sekenan rupanya”
Amno : “Apa sih?? Ga masalah kalii…gue uda jatuh hati ama Denzel dari pertama Roti nunjukkin dulu sampai sekarang! Dan gue emang pernah ngimpi buat memilikinya…. DENZEL AY LAP YUW AI SHITERUUUUHH!!!!!!!!!!!”
Denzel (?) : “…ngrok…fhiuuuu…..” *tidus dengan tenangnya di dalam box hardcover yang digantungi oleh-oleh from Banora, eh, ups!* (author bacot mode:active please for together goodness ga usah dimasukin ke ati)
Walo keras, tapi di setiap perpindahan nada kita juga harus hati-hati dan sehalus mungkin. Jangan sampai karena ingin memaksimalkan tekanan pada fingerboard, pelepasan dan pengambilan nadanya jadi nggak enak didengar. Jadi, bermain biola adalah memadukan kekuatan (power) dan kelembutan. Plus ekstra kesabaran. Kedua hal itulah yang mungkin membuat aura seorang violinis  terlihat sebegitu mengagumkannya.
Cloud : “Masalah lo tuh. Mau ngontrol melodi eh malah sia-sia karena nggak ada powernya. Mau nambah power malah over limit kayak orang kesurupan.”
Amno : “O, oke…hokee…well, tapi artinya gue lumayan punya kesabaran paan??? Pan?? Ayo, ayo, berjujur hatilah pada adikmu ini”
Cloud : “…….Apaan,…. kedua brother u ribut dikit langsung ngamuk. Tapi kalo untuk Denzel….yeah…mungkin karena lo mempersonifikasikan biola u  dengan manusia berimej macem Denzel (yang ga tau karakteristik Denzel dari Final Fantasy VII, search aja lewat Mbah Gugel bentar) , jadi ga tega juga.”
Cloud`s mind : Adik what…najong euy
Amno : “Kali yak?? Makanya, sesuai tips dari Naom-senpai (guru biola gue), sebaiknya kita menamain instrumen kita supaya bisa lebih `mengakrabi’ instrumen tersebut. Terserah aja apa namanya, tapi gue ma temen gue milih nama berdasarkan pengharapan imej sih, supaya lebih real. Misalnya temen gue yang ga mau namain cellonya `Zack` karena takut mati, err…rusak c=,=”a. Masalahnya udah seringkali kami ditunjukkin bahwa `NAMA ADALAH DOA`, dulu kami namain Zack ke anak kucing di sekolah, eh mati beneran. Namain Cloud ke anak kucing, eh, boncel kucingnya kayak elo, pertumbuhan terhenti. Ah, sering dah pokoknya.  ”
Amno : Halah gue adopsi jadi aniki aja belagak lo….
Cloud : “Hoy, gua gak boncel, dasar The_Kill Queen! Nah elo, kenapa namain biola lu Denzel coba? Mau biola lu rusak kena Geostigma?”
Amno : “Semprul loh. Meneketehe, pertama kali ngeliat tuh biola yang terbersit di kepala ya anak itu.”
Cloud : “……”
Kembali ke leppi: Fakta yang gua dapet adalah, bermain biola itu modalnya bukan Cuma KELEMBUTAN dan KESABARAN, tapi juga, yang puenting buangte, POWER. Itu musti kudu wajip ada, g terkecuali pas kita mainin lagu yang mellow. Coba liat aja Vanessa Mae,  keliatan bahwa di setiap shownya dia pake power yang ga sedikit. Ahem, misalnya ada dua cewek yang dengan music talent, kesabaran dan minat yang sama belajar biola, yang satu lembut-kalem dan yang satu tomboy-aktif, gue lebih yakin kalo si tomboy-aktif progressnya lebih baik daripada si lembut-kalem. Ya karena itu, power adalah salah satu unsur penting bagi anda, calon- calon violinis harapan bangsa sekalian.(*cloud : lebay*). Sekian dari saya, maaf jika terdapat kata-kata yang over-bacot ato…
BTOOK!!!! (tiba-tiba sebentuk rosin biola menghantam gigi author dengan nistanya…)
Amno :”HAAAUUUUU!!!! Appaaan elo sih, eh, sih elo Cloud??!!”
Cloud : “Ada nyang kelupaan, jangan asal tutup aja,sis.”
Amno : “Hn…apa yak???”
Cloud : “Masa muda udah pikun, gemana sih kamyuw?”
Amno:”…..”
                “daripada elu, lha, masa muda udah kurang bahagia. Gimana seh kwamyu?”
Cloud : (*pundung di pojokan dapur*)
Amno : “Ah! Got it!”
Biarpun senarnya keras, nanti lama-lama bakal terbiasa juga kok. Malah kalo reader udah terbiasa ngontrolnya, kalian pasti mikir “Voila! ini dia yang namanya suara biola! Yahuyahuyehyeeeeehhhhh!!!!” (yang “yehyeh” tu Cuma kalo kalian adalah author bejat bernickname Amno). Lagian nih, kalo gue ga salah ngerasainnya, lama-lama senarnya `melunak` sendiri kok dan bikin efek “biola”nya betul-betul kerasa. Masih ada lagi yang puaaaaling fuenting….semangat pantang menyerah! Pokoknya kalo emang serius, jangan pernah merasa bosan atau putus asa.
 Ganbatte!!! Gonna Never Give Up is the Main Key to have!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar